Ingin kegiatan kamu di publish? hubungi admin kami. Kirim Artikel
Postingan

Ketua GP Ansor Bojonegoro: Pemuda Hari Ini Tidak Boleh Apolitik


Bojonegoro – Generasi muda tidak boleh bersikap apolitik. Sebab, pemuda hari ini merupakan calon pemimpin masa depan yang akan menentukan arah kehidupan masyarakat dan bangsa.

Hal tersebut disampaikan Mochamad Nurwahyudi, Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Bojonegoro, dalam podcast Ngaji (Ngobrol Asyik Jengker Demokrasi) yang disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Dewan Jegrank, Selasa (18/8/2026) malam.

Podcast yang berlangsung mulai pukul 19.30 hingga 22.00 WIB tersebut mengangkat tema “Generasi Z dan Politik”. Selain Nurwahyudi, hadir sebagai narasumber Dr. Handoko SHW, SE, MM, Ketua Bawaslu Bojonegoro; Heri Wibowo, pengusaha muda; serta M. Imam Akbar Al Haromein, Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Bojonegoro.

Dalam forum tersebut, Nurwahyudi menegaskan bahwa menjauhkan diri dari politik bukanlah pilihan yang tepat bagi generasi muda. Menurutnya, politik merupakan bagian dari kehidupan masyarakat karena berkaitan dengan berbagai kebutuhan dan kebijakan yang berdampak langsung terhadap kehidupan sehari-hari.

“Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. Jadi seyogianya tidak ada lagi kata bahwa pemuda hari ini adalah apolitik,” tegas Nurwahyudi. 

GP Ansor Dorong Kader Melek Politik
Nurwahyudi menjelaskan, GP Ansor memiliki tanggung jawab untuk memberikan bekal kepada kader-kader muda agar memiliki kepedulian terhadap kehidupan kebangsaan. Dalam proses kaderisasi, GP Ansor tidak hanya memberikan nilai-nilai keagamaan, tetapi juga menanamkan nilai kebangsaan dan sosial.

Menurutnya, bekal tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya kritis generasi muda dalam melihat berbagai fenomena sosial dan kenegaraan. 

“Harapan kami, pemuda hari ini memiliki bekal nilai-nilai kebangsaan, keagamaan, dan sosial sehingga mampu menambah daya kritis,” demikian gagasan yang disampaikan Nurwahyudi dalam diskusi tersebut. 

Ia menilai, bentuk kepedulian politik generasi Z memang berbeda dengan generasi sebelumnya. Jika dahulu anak muda lebih banyak bertemu secara langsung, berdiskusi dan membahas persoalan di ruang-ruang pertemuan, generasi sekarang lebih banyak menggunakan media sosial sebagai ruang menyampaikan keresahan dan sikap mereka.

Menurut Nurwahyudi, ketika terdapat persoalan yang dianggap tidak sesuai dengan idealisme generasi Z, mereka dapat mengekspresikannya melalui konten-konten kreatif di media sosial. 

Hal tersebut merupakan salah satu bentuk ekspresi kepedulian generasi muda terhadap kondisi sosial dan politik. 

Politik Kebangsaan, Bukan Politik Partisan
Dalam kesempatan tersebut, Nurwahyudi juga menjelaskan posisi GP Ansor dalam kehidupan politik. Ia menegaskan bahwa secara organisatoris, politik yang dikembangkan GP Ansor adalah politik kebangsaan.

“Dalam konteks organisatoris, politiknya adalah politik kebangsaan.” 
Menurutnya, GP Ansor melalui kaderisasi memberikan wawasan kepada kader agar memiliki kepedulian terhadap negara. Namun, organisasi tidak mengarahkan kader untuk memilih partai politik tertentu.

Nurwahyudi justru menekankan pentingnya menggunakan hak politik secara bertanggung jawab. Ia menyebut kader tidak seharusnya bersikap abstain dalam momentum politik, sementara pilihan terhadap calon maupun kekuatan politik tertentu tetap menjadi hak masing-masing individu.

Yang terpenting, kata dia, pilihan politik harus mempertimbangkan keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat. 

Kader Harus Kritis terhadap Kebijakan Pemerintah
Selain mendorong partisipasi politik, GP Ansor juga berupaya membentuk kader yang memiliki nalar kritis.

Nurwahyudi mengatakan bahwa kader tidak cukup hanya menjadi peserta dalam proses politik. Mereka juga harus mampu membaca kebijakan pemerintah dan memberikan kritik apabila terdapat kebijakan yang dinilai kurang berpihak kepada masyarakat.

“Di setiap kaderisasi yang kita laksanakan, seyogianya sahabat-sahabat itu punya nalar kritis, punya gagasan dan kemudian bisa mengoreksi kebijakan-kebijakan yang dilakukan pemerintah yang nota bene kurang berpihak kepada masyarakat,” ujarnya. 

Menurutnya, sikap kritis tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab sosial kader. Ia mengaitkannya dengan prinsip amar makruf nahi mungkar, yakni mendorong kebaikan sekaligus mengingatkan ketika terdapat hal yang dinilai tidak sesuai.

Tolak Politik Uang
Pembahasan mengenai keterlibatan pemuda dalam politik juga menyentuh persoalan politik uang, khususnya dalam konteks politik di tingkat desa.

Nurwahyudi menegaskan bahwa GP Ansor tidak sepakat dengan praktik politik uang. Ia berharap proses demokrasi berjalan secara sehat dan menghasilkan pemimpin yang memiliki integritas serta visi pembangunan.

“Yang jelas bahwa kita tidak sepakat dengan adanya money politic. Kita ingin demokrasi kita itu berjalan dengan sehat,” tegasnya. 

Menurutnya, demokrasi yang sehat membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk generasi muda dan organisasi kepemudaan.

Melalui forum Ngaji (Ngobrol Asyik Jengker Demokrasi) tersebut, Nurwahyudi pada akhirnya menegaskan pentingnya menempatkan generasi muda sebagai subjek dalam kehidupan demokrasi. Pemuda bukan sekadar objek dalam setiap kontestasi politik, tetapi harus dipersiapkan menjadi generasi yang kritis, mandiri, berintegritas, serta memiliki kepedulian terhadap masa depan bangsa. (Ad)

Posting Komentar