Ingin kegiatan kamu di publish? hubungi admin kami. Kirim Artikel
Postingan

Lambang Sudah di Buat, Namun K.H. Hasyim Asy'ari Masih Menyuruh Sowon Ke Sidogiri



Bayangkan, Sebuah organisasi baru saja akan lahir.

Para ulama besar sudah berkumpul.

Nama organisasinya sudah disepakati.

Tetapi ternyata masih ada satu hal yang belum selesai:

Lambangnya.

KH Ridlwan Abdullah kemudian membuat rancangan lambang NU berdasarkan hasil istikharah.

Setelah rancangan itu jadi, beliau membawanya kepada Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari.

Kalau sudah sampai kepada Hadratussyekh, mungkin kita mengira persoalannya selesai.Ternyata belum.

KH Hasyim Asy’ari justru meminta KH Ridlwan Abdullah melakukan satu hal lagi, “Sowanlah ke Sidogiri.”

Untuk apa?

Untuk menemui seorang kiai yang mungkin namanya tidak sepopuler Hasyim Asy’ari atau Wahab Hasbullah.

Namanya KH Nawawie bin Noerhasan Sidogiri.

Dalam riwayat yang diberitakan NU Online, KH Ridlwan diminta meminta pendapat KH Nawawie mengenai rancangan lambang tersebut sekaligus mengajaknya menjadi bagian dari kepengurusan NU. 

Dan di sinilah kisahnya menjadi menarik.

Sebab kita sedang berbicara tentang seorang kiai yang tidak berada di pusat hiruk-pikuk kota besar.

Beliau berada di Sidogiri.

Pesantren tua di Pasuruan.

Tetapi ketika para pendiri NU membutuhkan pandangan seorang ulama, nama KH Nawawie termasuk yang dicari.

“KALAU MBAH HASYIM BILANG BAGUS, YA BAGUS.”

Ada satu bagian dari kisah ini yang menurut saya justru lebih menarik daripada lambangnya sendiri.

Ketika KH Ridlwan menunjukkan rancangan lambang NU dan meminta pendapat, KH Nawawie disebut tidak buru-buru memberikan penilaian atas dirinya sendiri.

Beliau justru menyatakan bahwa pendapatnya mengikuti pendapat KH Hasyim Asy’ari.

Kalau Hadratussyekh menganggap lambang tersebut bagus, maka beliau juga menganggapnya bagus.

Kalau Hadratussyekh menganggap perlu diperbaiki, maka beliau pun mengikuti. 

Di zaman ketika seseorang kadang ingin pendapatnya sendiri dianggap paling benar, kisah ini justru memperlihatkan sesuatu yang berbeda.

Semakin tinggi ilmu seseorang, tidak selalu semakin tinggi pula keinginannya untuk menunjukkan bahwa dirinya paling tahu.

KH Nawawie adalah ulama yang kedudukannya dihormati.

Tetapi ketika berhadapan dengan Hadratussyekh, beliau tetap menunjukkan adab.

Bukan berarti tidak mempunyai pendapat.

Justru sikap itu menunjukkan bahwa beliau memahami bahwa dalam urusan bersama, adab dan persatuan para ulama harus dijaga.

TERNYATA KH NAWAWIE BUKAN HANYA DIMINTAI PENDAPAT

Ada tujuan kedua dari kedatangan KH Ridlwan.

KH Hasyim Asy’ari juga ingin mengajak KH Nawawie masuk dalam kepengurusan NU.

Dan ternyata KH Nawawie bersedia.

Tetapi beliau mengajukan satu syarat.Bukan meminta jabatan.

Bukan meminta fasilitas.

Bukan meminta penghormatan.

Syarat yang diberitakan NU Online itu justru sederhana:

para pengurus NU harus mau “urunan” untuk menjalankan roda organisasi. 

Artinya, perjuangan jangan hanya dibebankan kepada satu atau dua orang.

Kalau ingin membangun organisasi, semuanya harus ikut berkorban.

Ada yang menyumbang tenaga.

Ada yang menyumbang pikiran.

Ada yang menyumbang harta.

Ada yang mengorbankan waktu.

Dan semuanya dilakukan karena merasa memiliki perjuangan bersama.

Kalau dipikir-pikir, ini bukan sekadar cerita tentang sebuah syarat.

Ini menggambarkan cara berpikir seorang ulama ketika melihat sebuah perjuangan:

jangan hanya bertanya, “Apa yang akan saya dapat?”

Tetapi bertanyalah:

“Apa yang bisa saya keluarkan untuk perjuangan ini?”

DARI SIDOGIRI, SEORANG KIAI IKUT MEMBIDANI LAHIRNYA NU

Riwayat dari Pesantren Sidogiri menyebut KH Nawawie sebagai salah satu ulama yang ikut membidani lahirnya NU.

Sebelum pertemuan pendirian NU pada 31 Januari 1926, KH Wahab Hasbullah yang sedang mengupayakan pembentukan organisasi keagamaan disebut terlebih dahulu berkonsultasi dengan KH Hasyim Asy’ari.

Dari sana, KH Wahab kemudian disarankan menemui KH Nawawie Sidogiri.

KH Nawawie menyarankan agar gagasan tersebut dimusyawarahkan terlebih dahulu dengan para ulama Pasuruan. Pembicaraan kemudian berlanjut hingga akhirnya para ulama berkumpul di Surabaya pada 31 Januari 1926 dan menyepakati berdirinya Nahdlatul Ulama. 

Jadi ketika orang berbicara tentang sejarah awal NU, nama KH Nawawie tidak semestinya dilupakan.

Beliau memang bukan tokoh yang paling sering tampil di foto sejarah.

Bukan pula sosok yang setiap hari disebut dalam buku-buku populer.

Tetapi dalam riwayat yang dicatat oleh Pesantren Sidogiri, beliau termasuk ulama yang terlibat dalam proses penting menuju lahirnya NU.

Bahkan beliau kemudian tercatat sebagai salah satu pengurus pertama NU dan duduk sebagai Mustasyar NU periode pertama, posisi yang disebut beliau jalani hingga akhir hayat.

DAN ADA SATU DETAIL LAMBANG YANG MENARIK

Dalam salah satu riwayat yang disampaikan PWNU Jawa Timur, ketika rancangan lambang NU dibawa kepada KH Nawawie, beliau disebut memberikan masukan tentang tali yang mengelilingi bumi, termasuk agar ikatannya tidak terlalu ketat. 

Kita tentu perlu hati-hati membedakan antara sejarah yang terdokumentasi kuat dengan riwayat yang berkembang di lingkungan pesantren.

Tetapi kisah tersebut menarik karena kemudian lambang NU memang dikenal dengan bola dunia yang dilingkari tali dengan ikatan yang longgar dan sembilan bintang. 

Dan kalau kita melihat lambang itu hari ini, mungkin kita tidak pernah membayangkan bahwa di balik proses pembentukannya ada cerita tentang sowan, musyawarah, istikharah, dan tawadhu’ para ulama.

KIAI BESAR YANG TIDAK PERLU TERIAK UNTUK DIDENGAR

Ada sesuatu yang saya suka dari kisah KH Nawawie.

Beliau tidak perlu menjadi orang yang paling banyak bicara untuk membuat pendapatnya diperhitungkan.

Tidak perlu berada di tengah panggung.

Tidak perlu mengejar popularitas.

Cukup duduk di Sidogiri.

Tetapi ketika KH Hasyim Asy’ari membutuhkan pandangan ulama, orang datang kepadanya.

Ketika NU sedang dirintis, namanya ikut diperhitungkan.

Ketika lambang NU sedang dibicarakan, beliau dimintai pendapat.

Dan ketika diminta bergabung, beliau tidak meminta imbalan.

Justru mengingatkan:

perjuangan harus ditanggung bersama.

Mungkin beginilah salah satu wajah ulama pesantren zaman dahulu.

Ilmunya tinggi, tetapi tidak sibuk meninggikan dirinya.

Ada pelajaran yang sangat dalam dari kisah ini.

Kadang kita mengira orang yang berpengaruh adalah orang yang paling sering terlihat.

Padahal sejarah sering bekerja dengan cara yang berbeda.

Ada orang-orang yang tidak banyak tampil, tetapi keputusan penting pernah melewati meja musyawarah mereka.

Ada guru yang tidak terkenal di media, tetapi murid-muridnya kemudian mengubah zaman.

Ada kiai yang tidak mengejar nama, tetapi namanya justru tertulis dalam perjalanan panjang sebuah perjuangan.

KH Nawawie bin Noerhasan adalah salah satu di antaranya.

Dari Sidogiri, beliau ikut menyumbangkan pikiran dalam proses lahirnya NU.

Dan ketika diminta memberikan pendapat tentang lambang organisasi, beliau tidak menjadikan dirinya sebagai pusat.

Beliau justru menunjukkan adab kepada ulama yang lebih dahulu dimintai amanah.

Sebuah pelajaran yang sederhana, tetapi semakin hari terasa semakin mahal:

Ilmu membuat seseorang tahu banyak hal.

Tetapi adab membuat seseorang tahu kapan harus menempatkan dirinya.

Semoga Allah merahmati KH Nawawie bin Noerhasan Sidogiri, para muassis NU, para masyayikh, dan seluruh ulama yang telah mewariskan ilmu serta perjuangan kepada kita.

Semoga kita diberi kemampuan untuk menjaga warisan mereka bukan hanya dengan mengingat nama-namanya, tetapi juga dengan meneladani ilmu, adab, persatuan, dan kesediaan berkorban untuk kemaslahatan umat.

Al-Fatihah…

Posting Komentar