Ingin kegiatan kamu di publish? hubungi admin kami. Kirim Artikel

Table of Content

Inferioritas dan Hingar Bingar Ibu Kota Sentris


Tidak seperti sebelumnya, 2023 akhirnya memberikan kedekatan psikologis dengan Bojonegoro. Secara emosional, bagaimanapun, kabupaten ini terkoneksi dengan saya melalui hubungan geografis sebagai tempat saya lahir dan tinggal. Tapi itu tidak sepenuhnya membuat saya menjadikan hubungan tersebut spesial.

Saya pernah menemukan masa ketika tidak ingin tinggal di kabupaten. Menjadikan merantau sebagai jalan ninja. Mengglorifikasi hingar-bingar kota lain dan tetap bermental inlander dalam perspektif kedaerahan.

Belakangan saya menyadari, sepertinya semua berangkat dari keangkuhan dan inferioritas saya sendiri sebagai warga kabupaten.

Cara pandang ibu kota sentris menegasikan identitas dan kebanggaan kedaerahan saya. Tidak ada yang menarik di kabupaten, dan masa depan rasanya ingin saya ciptakan melalui utopia tentang hal-hal prestisius dan struktural yang bisa saya akses di kota besar.

Saya lupa bahwa untuk makan, kaya, berbahagia, dan bersyukur tidak semata-mata ditentukan oleh geografi wilayah tempat kita tinggal.

Banyak faktor determinan yang menjadikan kita berdaya atas hidup kita. Namun, sayangnya, sering kali kita terlambat menyadari bahwa menjadi warga kabupaten bukan sekadar keadaan geografis yang harus diterima, melainkan kehormatan sekaligus tanggung jawab yang harus kita maknai untuk masa-masa mendatang.

Everett Rogers, dalam Diffusion of Innovations, membedah bagaimana inovasi, gagasan, dan teknologi menyebar dari kelompok atau wilayah yang lebih dahulu mengadopsinya menuju kelompok atau wilayah lain. Dalam konteks kabupaten dan geografi manusia, proses ini juga dapat dijelaskan melalui konsep hierarchical diffusion, ketika inovasi dan praktik sosial menyebar melalui mekanisme hierarki perkotaan.

Dalam kadar tertentu, proses tersebut dapat melahirkan hegemoni. Masyarakat kabupaten membangun semacam persetujuan bersama bahwa apa yang lahir dan tumbuh di ibu kota akan cocok pula untuk dilakukan di kabupaten.

Tidak menjadi soal ketika pandangan tersebut diuji melalui aksi dan tindakan yang memungkinkan terbukanya ruang koreksi dan asimilasi. Sialnya, beberapa kali, keyakinan atas kemungkinan adopsi berbagai aspek kehidupan dari ibu kota hanya berhenti sebagai angan dan diyakini tanpa pernah dikonfrontasikan dengan kenyataan.

Proses itulah yang mungkin membuat banyak dari kita hari ini memiliki penggaris tunggal untuk mengukur segala hal yang ada di kabupaten. Konkretnya, kita memberikan parameter nilai berdasarkan hal-hal ekstrinsik yang bisa diindra.

Kebiasaan berulang menilai segala sesuatu hanya melalui apa yang tampak di permukaan perlahan menumpulkan nalar kritis kita sebagai warga kabupaten. Paradigma dan perspektif kita lebih banyak dipengaruhi oleh kumpulan keyakinan yang telanjur diterima sebagai kewajaran oleh masyarakat luas (common sense).

Menumbuhkan kabupaten tidak bisa dilakukan hanya dengan garis dasar nalar jamak atau status quo. Nalar kritis haruslah menjadi kompasnya. Kita harus memberikan kontranarasi bahwa dominasi cara bermain ibu kota harus diuji melalui kontradiksi dan kenyataan empiris kabupaten.

Ketertinggalan kita akan terus terasa jauh dan tanpa batas ketika semua harus kita ukur menggunakan pakaian wilayah lain. Kabupaten ini harus mampu berpikir secara mandiri tentang apa yang baik dan apa yang harus dilakukan.

Kemandirian berpikir bukan berarti menolak segala sesuatu yang datang dari luar. Tidak ada kemajuan yang lahir dari keterasingan. Tapi keterbukaan juga tidak seharusnya menjadikan kita kehilangan kemampuan untuk membedakan mana yang benar-benar dibutuhkan dan mana yang sekadar ingin kita tiru.

Kabupaten tidak kekurangan alasan untuk tumbuh. Yang barangkali masih kurang adalah keberanian untuk merumuskan sendiri arah pertumbuhannya. Kita terlalu sering menempatkan daerah sebagai penerima gagasan, bukan sebagai tempat gagasan dilahirkan. Terlalu sibuk mengejar ukuran kemajuan yang diciptakan wilayah lain, sampai lupa mempertanyakan apakah ukuran tersebut benar-benar menjawab persoalan kita.

Itulah mengapa, dengan berbagai cara dan otoritas terkecil yang masing-masing telah kita miliki, menumbuhkan kabupaten harus dimulai dari mereplikasi peran intelektual-intelektual organik di dalamnya. Kabupaten ini harus diisi oleh orang-orang yang memahami persoalan kelompok sosialnya dan, pada titik yang sama, ikut kotor mengembangkan pemikiran, kesadaran, dan kemampuan bertindak secara kolektif.

Hari ini kita dijejali surplus informasi dan pengetahuan tentang standar pembangunan tertentu. Tapi tesis pengetahuan itu tetap akan menjadi teori jika tidak diuji melalui tindakan. Akan tetap menjadi mitos jika tidak ditempatkan dalam konteksnya. Akan tetap menjadi angan sampai ada yang mencoba merealisasikannya.

Barangkali sudah waktunya kita berhenti memandang kabupaten sebagai ruang tunggu sebelum akhirnya bisa hidup di tempat yang dianggap lebih menjanjikan. Kabupaten bukan sekadar tempat yang kita tinggalkan untuk mencari masa depan. Ia juga harus menjadi tempat di mana masa depan itu memungkinkan untuk diciptakan.

Kita tidak harus menjadikan kabupaten sebagai ibu kota dalam ukuran yang lebih kecil. Tidak pula harus membuktikan bahwa segala sesuatu yang ada di ibu kota bisa kita hadirkan di sini.

Pekerjaan politik kita hari ini adalah menciptakan ruang-ruang kecil yang mampu menjadi pemantik sekaligus daya ungkit (jump-start) bagi lahirnya kesadaran dan keberanian kolektif. Ruang-ruang yang memungkinkan gagasan diuji, pengetahuan dipertemukan dengan tindakan, dan masyarakat mulai membangun kemampuan untuk menentukan sendiri apa yang layak disebut kemajuan. - Muhamad Yuda Pradana

Saya berasal dari Bojonegoro, berlatar pendidikan hukum, dan bekerja di bidang keuangan serta asuransi. Di luar pekerjaan, saya mengembangkan Nusaiba Studio dan berbagai proyek digital.

Posting Komentar