BOJONEGORO— Sejarah sebuah desa tidak selalu tersimpan dalam arsip tertulis. Sebagiannya hidup melalui cerita tutur, nama-nama tempat, dan tradisi yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di Margomulyo, Kecamatan Balen, Bojonegoro, ingatan tentang para sesepuh menjadi salah satu pintu untuk memahami bagaimana masyarakat menafsirkan asal-usul sekaligus merawat hubungan dengan masa lalunya.
Pada kesempatan bertandang ke kediaman Kyai Budi pada Minggu (11/10/2026). Tim kami mendapat Keterangan mengenai lintasan sejarah dan kebudayaan Margomulyo disampaikan oleh Kyai Budi, Ketua Tanfidziyah PRNU Margomulyo. Menurutnya, penulisan sejarah desa mulai mendapat perhatian sejak periode kepala desa yang kedua. Namun, jauh sebelum sejarah itu diupayakan dalam bentuk tulisan, masyarakat telah mengenal kisah tentang keberadaan para wali dan tokoh spiritual yang dipercaya pernah singgah maupun hidup di wilayah tersebut.
“Penulisan sejarah desa mulai mendapat perhatian sejak periode Kepala desa Arif Rahman yang kedua” Terangnya.
Cerita semacam ini menempatkan Margomulyo bukan semata sebagai ruang geografis, melainkan juga ruang kebudayaan yang dibentuk oleh ingatan kolektif masyarakatnya. Di dalamnya, sejarah, kepercayaan, dan penghormatan terhadap leluhur saling berkelindan, meski tidak seluruhnya dapat dipastikan melalui sumber tertulis.
Salah satu nama yang muncul dalam penuturan Kyai Budi adalah Mbah Geger. Berdasarkan informasi yang ia sampaikan, Mbah Geger dikenal sebagai salah satu penasihat bagi bupati pertama Bojonegoro. Keterangan tersebut menempatkan sosok Mbah Geger dalam ingatan lokal yang menghubungkan sejarah desa dengan pembentukan pemerintahan di tingkat kabupaten.
Nama lain yang memiliki tempat penting dalam cerita tutur Margomulyo adalah Syekh Siti Jenar. Dalam kisah yang berkembang di masyarakat, tokoh tersebut disebut pernah singgah dalam perjalanan spiritualnya di Dusun Lemahbang, Desa Margomulyo, Kecamatan Balen.
Kyai Budi juga menuturkan adanya cerita dari Gus Mukhlason, tokoh dari Mojokerto, yang menyebut bahwa Mbah Soro merupakan Syekh Siti Jenar itu sendiri. Penuturan tersebut memperlihatkan adanya hubungan antara tokoh leluhur lokal dengan figur yang dikenal luas dalam tradisi spiritual Jawa.
Meski demikian, kisah mengenai Mbah Soro dan Syekh Siti Jenar masih perlu ditempatkan sebagai tradisi lisan yang hidup di tengah masyarakat. Penelusuran melalui sumber sejarah tertulis, manuskrip, maupun keterangan lintas generasi tetap diperlukan untuk memahami sejauh mana hubungan tersebut dapat ditelusuri secara historis.
Bagi Margomulyo, arti penting kisah-kisah itu tidak hanya terletak pada kemungkinan untuk menemukan siapa tokoh yang sebenarnya. Lebih dari itu, cerita mengenai para sesepuh memperlihatkan bagaimana masyarakat membangun pemahaman tentang asal-usul dan mewariskan nilai yang dianggap penting bagi kehidupan bersama.
Dari cerita leluhur menuju tradisi desa
Upaya merawat ingatan terhadap para pendahulu juga hadir dalam tradisi keagamaan dan kebudayaan masyarakat. Kyai Budi menuturkan, pada periode awal kepemimpinannya di lingkungan ranting Nahdlatul Ulama, ia pernah menawarkan kepada kepala desa agar diadakan haul para sesepuh desa yang pelaksanaannya disatukan dengan momentum sedekah bumi.
“Pada awal kepemimpinan saya di Ranting Nahdlatul Ulama Margomulyo ini, saya secara langsung menawarkan kepada kepala desa agar diadakan haul para sesepuh desa yang pelaksanaannya disatukan dengan momentum sedekah bumi.” Tutur pria yang juga Ketua Takmir Masjid Desa.
Gagasan tersebut mempertemukan dua bentuk penghormatan yang memiliki kedudukan penting dalam kehidupan masyarakat desa. Haul menjadi ruang untuk mengenang tokoh yang telah mendahului, sedangkan sedekah bumi menjadi bagian dari tradisi syukur masyarakat atas kehidupan dan hasil bumi yang menopang keberlangsungan mereka.
Ketika keduanya ditempatkan dalam satu momentum, tradisi tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Ia dapat menjadi ruang pertemuan antargenerasi, tempat masyarakat mengenali kembali tokoh-tokoh yang membentuk kehidupan desa sekaligus memahami nilai yang diwariskan kepada mereka.
Dalam konteks ini, peran organisasi keagamaan tidak hanya berkaitan dengan penyelenggaraan kegiatan keagamaan. Ada pula tanggung jawab kebudayaan untuk menjaga cerita yang hidup di masyarakat agar tidak terputus oleh perubahan zaman. Ingatan tentang leluhur, apabila dirawat dan ditelusuri dengan baik, dapat menjadi bagian dari upaya masyarakat memahami identitasnya sendiri.
Margomulyo dan makna sebuah nama
Salah satu penuturan yang menarik berkaitan dengan asal-usul nama Margomulyo. Menurut cerita yang disampaikan Kyai Budi, nama tersebut dikaitkan dengan kisah Mbah Soro yang disebut menjalani puasa hingga meninggal dunia.
Dalam penafsiran cerita itu, pengorbanan Mbah Soro dimaknai sebagai ikhtiar agar anak keturunannya dapat hidup mulia. Kemuliaan yang dimaksud bukan sekadar melekat pada nama atau kedudukan, melainkan menjadi harapan yang diwariskan melalui pengorbanan seorang leluhur.
Penuturan tersebut memberikan lapisan makna pada nama Margomulyo. Nama desa tidak hanya berfungsi sebagai penanda wilayah, tetapi juga menyimpan pesan moral tentang hubungan antara pengorbanan generasi terdahulu dan kehidupan generasi berikutnya.
Di titik ini, cerita asal-usul bekerja sebagai semacam pengingat sosial. Kehidupan yang dinikmati generasi sekarang tidak sepenuhnya berdiri sendiri. Ada perjuangan, pengorbanan, dan pilihan hidup orang-orang terdahulu yang dalam ingatan masyarakat dianggap turut membentuk keadaan hari ini.
Namun, hubungan antara kisah Mbah Soro dan penamaan Margomulyo masih perlu ditelusuri melalui sumber yang lebih luas untuk memastikan asal-usul etimologisnya. Cerita tutur memberikan petunjuk tentang bagaimana masyarakat memaknai nama desanya, sementara penelitian sejarah diperlukan untuk membedakan penafsiran budaya dari asal-usul bahasa yang dapat dibuktikan.
Medayun dan jejak yang tersimpan dalam nama dusun
Dalam hal lain, Arif Rahman sebagai Kepala Desa Margomulyo menjelaskan tentang Ingatan masyarakat ihwal asal-usul desa Margomulyo juga muncul dalam penuturan mengenai Dusun Medayun. Untuk menghubungkan nama tersebut dengan ungkapan “dayun mumat-mumet”. Ia juga menyebut Dayun sebagai prajurit Menak Jinggo dan menduga bahwa Mbah Dayun merupakan salah satu sesepuh yang lebih dahulu hadir dalam rangkaian cerita tentang Mbah Soro.
“Dulu, sebelum margomulyo ini mendapat nomenklatur yang dikenal hingga saat ini. Mulanya berasal dari satu dusun yang bernama Medayun yang diambil dari nama seorang prajurit Minak Jinggo yang mengalami kebingungan dan hingga mengalami interaksi dengan masyarakat asli” Terangnya.
Penuturan itu memperlihatkan bagaimana nama tempat dapat menjadi pintu masuk untuk menelusuri hubungan antara tokoh lokal dan kisah yang berkembang dalam kebudayaan Jawa. Nama Medayun, dalam cerita yang diwariskan masyarakat, tidak berdiri sebagai sebutan administratif belaka. Ia dihubungkan dengan figur, perjalanan, dan ingatan tentang masa silam.
Kendati demikian, hubungan antara Dayun, Menak Jinggo, dan Mbah Soro masih memerlukan penelusuran lebih lanjut. Kesamaan nama atau keterkaitan dalam cerita tutur belum dengan sendirinya membuktikan hubungan genealogis maupun kronologis di antara tokoh-tokoh tersebut.
Justru di situlah pentingnya kerja pendokumentasian sejarah desa. Cerita yang selama ini disampaikan secara lisan dapat dihimpun melalui wawancara dengan para sesepuh, dibandingkan dengan versi penutur lain, lalu diperiksa silang dengan arsip desa, dokumen keagamaan, maupun sumber sejarah yang relevan. Dengan cara itu, tradisi lisan tidak sekadar diulang, tetapi juga dirawat sebagai sumber pengetahuan yang dapat dikaji.
Merawat ingatan, memahami identitas
Kisah tentang Mbah Geger, Mbah Soro, Syekh Siti Jenar, hingga Mbah Dayun menunjukkan bahwa sejarah Margomulyo masih hidup dalam berbagai lapisan ingatan masyarakat. Sebagian berkaitan dengan tokoh keagamaan, sebagian lain terhubung dengan pemerintahan, penamaan tempat, dan tradisi yang terus dijalankan.
Di tengah perubahan sosial, tantangan sejarah desa bukan hanya menjaga agar cerita lama tidak hilang. Tantangan lainnya adalah memastikan bahwa cerita tersebut dapat diwariskan tanpa kehilangan konteks, sekaligus tanpa mencampuradukkan keyakinan masyarakat dengan fakta sejarah yang belum terverifikasi.
Sebab, merawat tradisi tidak mengharuskan setiap cerita diterima sebagai fakta yang telah selesai. Sebaliknya, penghormatan terhadap leluhur dapat berjalan beriringan dengan upaya mencari sumber, membandingkan penuturan, dan menyusun dokumentasi yang lebih bertanggung jawab.
Pada akhirnya, Margomulyo menyimpan pekerjaan kebudayaan yang lebih luas daripada sekadar mengenang nama-nama pendahulu. Ada upaya memahami mengapa mereka terus diingat, nilai apa yang diwariskan, dan bagaimana ingatan itu membentuk cara masyarakat memandang dirinya sendiri.
Sejarah desa, dengan demikian, bukan semata-mata perkara siapa yang datang lebih dahulu atau siapa yang dianggap sebagai tokoh besar. Ia juga menyangkut bagaimana sebuah masyarakat menjaga hubungan dengan masa lalunya, menerjemahkan warisan menjadi nilai kehidupan, dan memastikan bahwa generasi berikutnya tidak tumbuh tanpa mengetahui dari mana mereka berasal. (Red)
