Ingin kegiatan kamu di publish? hubungi admin kami. Kirim Artikel

Menelusuri Jejak Dakwah K.H. Abdul Qodir Jailani di Sekaran Bojonegoro: Warisan Ulama Keraton hingga Otoritas Haji Tiga Kabupaten

BOJONEGORO — Kader Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Bojonegoro mengungkap keterhubungan sanad dakwah Islam Ahlussunnah wal Jamaah di Desa Sekaran dengan trah Keraton Solo serta kepemimpinan keumatan lintas wilayah pada masa kolonial, Minggu (11/10/2026).

Fakta sejarah keagamaan tersebut didokumentasikan oleh Kelompok KH. Imron Rosyadi dalam laporan riset Rihlah Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan (PKL) GP Ansor Bojonegoro di Ponpes Roudlotut Tholibin Balen.



Berdasarkan penuturan sesepuh desa, Bapak Usman, syiar Islam di kawasan tepian Bengawan Solo tersebut dirintis oleh K.H. Abdul Qodir Jailani atau Raden Citra Yuda, figur ulama keturunan Pangeran Benowo yang sempat mengabdi sebagai abdi dalem Keraton Solo era Susuhunan Pakubuwono II.

"K.H. Abdul Qodir Jailani merintis dakwah di pedalaman dan mendirikan Masjid Sekaran pada 1210 Hijriah atau 1795 Masehi. Bangunan ini menyimpan artefak asli yang masih utuh, yakni empat tiang utama (cagak), bedug kuno, serta bilah kayu (blabak)," tulis laporan riset mengutip keterangan sesepuh desa.

Ketersambungan dakwah berlanjut secara turun-temurun ke putranya, Mbah Ibrahim, yang mendirikan Masjid Padangan pada 1827. Putra Mbah Ibrahim yang menjabat Patih Bojonegoro, Haji Hasanul Bahri, tercatat sebagai pelopor pembangunan Masjid Agung Bojonegoro pada 1825.

Kiprah keumatan keluarga ini mencapai puncaknya pada generasi cicit Kiai Jailani, yakni K.H. Abdul Rozaq atau Mbah Durajak. Sesepuh NU Desa Sekaran, K. Zimam Abdul Qodir, menerangkan bahwa Mbah Durajak mengemban mandat resmi sebagai Syaikhul Hujjat, yaitu pemegang otoritas tunggal yang mendaftar dan memberangkatkan calon jemaah haji asal Bojonegoro, Tuban, dan Lamongan di era Hindia Belanda.

"Beliau menjalankan mandat haji secara mandiri tanpa sokongan dana kolonial dan berkoordinasi langsung dengan Keraton Solo. Mbah Durajak sendiri tercatat menunaikan ibadah haji sebanyak 21 kali melalui pelayaran laut dan rute darat," jelas K. Zimam dalam wawancara laporan tersebut.

Selain mengelola haji, Mbah Durajak merintis pesantren berarsitektur panggung di Sekaran. Tongkat estafet keilmuan kemudian disempurnakan oleh K.H. Abdul Hanan lewat pendirian Madrasah Manba'ul Huda usai menimba ilmu selama lebih dari enam tahun di Makkah, yang kemudian berkembang menjadi pusat rujukan santri dari berbagai desa di wilayah Bojonegoro.

Posting Komentar