Ingin kegiatan kamu di publish? hubungi admin kami. Kirim Artikel

Table of Content

Sebuah Refreksi Diri : Ilusi Keakraban dan Keterasingan Sosial

 

Hubungan dengan tempat tinggal sering kali memberikan keyakinan bahwa kita telah memahami kehidupan di dalamnya. Secara emosional, bagaimanapun, daerah ini terkoneksi dengan kita melalui ingatan, kebiasaan, dan berbagai relasi yang tumbuh sejak lama. Kedekatan tersebut kemudian menjadi semacam legitimasi bagi pengetahuan kita tentang masyarakat.

Saya pun cenderung menerima hubungan itu sebagai sesuatu yang cukup. Mengetahui tempat-tempatnya, mengenali orang-orangnya, dan mengikuti percakapan yang berkembang di dalamnya. Seolah durasi keberadaan dengan sendirinya akan menghasilkan kedalaman pemahaman.

Padahal, ada banyak kehidupan yang berlangsung di luar jangkauan pengalaman saya.

Keakraban geografis rupanya dapat melahirkan ilusi epistemik: keyakinan bahwa sesuatu telah kita pahami hanya karena terus-menerus hadir di sekitar kita. Kita merasa mengenal masyarakat, sementara pengetahuan tersebut lebih banyak terbentuk melalui kelompok sosial yang paling dekat dengan keseharian sendiri.

Pertemanan, pekerjaan, pendidikan, dan akses ekonomi menjadi faktor determinan yang mengatur perjumpaan kita. Melalui hubungan-hubungan tersebut, kita memperoleh informasi, membangun persepsi, dan menentukan parameter tentang apa yang dianggap sebagai persoalan bersama.

Dalam kadar tertentu, proses itu menghasilkan semacam eksklusivitas pengalaman. Kita mendengar penjelasan yang relatif serupa, menemukan pembenaran dari orang-orang yang memiliki posisi sosial berdekatan, lalu menganggap kesepakatan di dalam lingkaran tersebut sebagai representasi kenyataan yang lebih luas.

Di situlah keakraban mulai membatasi kemungkinan kita untuk mengenal.

Persoalannya bukan pada keberadaan kelompok sosial itu sendiri. Setiap orang membutuhkan hubungan yang memungkinkan tumbuhnya kepercayaan dan solidaritas. Tetapi solidaritas internal dapat berjalan bersama ketidakpekaan terhadap pengalaman di luar kelompoknya.

Kita kemudian memiliki cukup keberanian untuk mengatakan bahwa masyarakat sulit diajak bergerak, anak muda kehilangan kepedulian, atau warga belum memiliki kesadaran untuk berkembang. Penilaian tersebut beredar sebagai common sense, diterima melalui pengulangan, dan perlahan memperoleh kedudukan sebagai penjelasan yang dianggap selesai.

Yang jarang kita periksa adalah posisi kita sendiri dalam membentuk penjelasan itu.

Ketidakikutsertaan seseorang kita pahami sebagai apatisme. Keengganannya hadir kita baca sebagai resistensi terhadap perubahan. Sementara keterbatasan waktu, pengalaman disisihkan, atau ketidakmampuan mengakses sebuah ruang luput dari pertimbangan.

Akibatnya, persoalan partisipasi direduksi menjadi persoalan mentalitas. Kita menempatkan penyebab pada diri mereka, tanpa cukup jauh menguji kondisi sosial yang memungkinkan atau justru menghambat keterlibatannya.

Cara pandang tersebut menegasikan kemungkinan bahwa ruang yang kita anggap terbuka sebenarnya dibangun melalui prasyarat-prasyarat yang tidak dimiliki semua orang.

Bahasa percakapan, waktu penyelenggaraan, jaringan pertemanan, dan kebiasaan berinteraksi ikut menentukan siapa yang merasa memiliki tempat. Akses formal memang tersedia, tetapi kemampuan untuk menggunakannya terdistribusi secara tidak merata.

Seseorang dapat diperbolehkan hadir tanpa pernah merasa memiliki legitimasi untuk berbicara.

Keterasingan sosial, dalam konteks ini, tumbuh melalui hubungan yang tampak dekat tetapi tidak memberikan cukup ruang bagi pengalaman yang berbeda. Kita berbagi wilayah, sementara kehidupan bersama dipahami melalui perspektif yang terfragmentasi.

Keadaan tersebut menjadi lebih problematis ketika sebagian dari kita memiliki otoritas untuk menentukan agenda. Pengetahuan yang terbatas pada pengalaman kelompok memperoleh daya untuk mengatur apa yang dibicarakan, siapa yang dilibatkan, dan kebutuhan mana yang diprioritaskan.

Di titik itu, keterbatasan perspektif berubah menjadi persoalan representasi.

Kita merasa berbicara atas nama masyarakat, padahal masyarakat lebih banyak hadir sebagai objek penjelasan. Pengalamannya diterjemahkan melalui kategori yang telah kita susun. Kepentingannya diasumsikan berdasarkan kebutuhan yang menurut kita seharusnya mereka miliki.

Bahkan niat untuk memberdayakan dapat mengandung kecenderungan paternalistik ketika kita terlalu yakin mengetahui apa yang baik bagi kehidupan orang lain.

Saya merasa kontradiksi tersebut harus menjadi bagian dari evaluasi atas berbagai ruang yang kita bangun. Klaim keterbukaan perlu dikonfrontasikan dengan kenyataan empiris: siapa yang terus hadir, siapa yang tidak pernah terlibat, dan siapa yang kehadirannya belum mampu memengaruhi keputusan.

Jumlah peserta belum cukup menjelaskan kualitas partisipasi. Kehadiran baru memperoleh makna ketika seseorang memiliki agensi untuk menyampaikan kepentingan, mempertanyakan agenda, dan ikut menentukan tindakan yang akan dijalankan.

Tanpa kemungkinan itu, partisipasi mudah berhenti sebagai prosedur yang memberikan legitimasi bagi keputusan yang sebelumnya sudah disusun.

Mendekatkan diri dengan masyarakat, karena itu, membutuhkan keberanian untuk melepaskan sebagian otoritas pengetahuan kita. Ada asumsi yang harus direvisi, agenda yang perlu dinegosiasikan, dan ukuran keberhasilan yang mungkin tidak lagi relevan setelah dipertemukan dengan pengalaman orang lain.

Proses tersebut memungkinkan ruang bersama tumbuh sebagai hubungan yang resiprokal. Kita datang membawa gagasan, sekaligus membuka diri terhadap pengetahuan yang dapat mengubahnya. Masyarakat memiliki kedudukan untuk merumuskan persoalan, beserta kemungkinan penyelesaiannya.

Barangkali tanggung jawab kedaerahan kita bermula dari kesediaan semacam itu. Identitas yang selama ini diterima melalui kelahiran dan tempat tinggal perlu memperoleh konsekuensi dalam cara kita membangun hubungan sosial.

Kita dapat memulainya melalui otoritas yang telah dimiliki: mengubah cara menyusun kegiatan, memperluas pihak yang menentukan agenda, dan memberikan tempat bagi pengalaman yang selama ini hanya muncul sebagai catatan tambahan.

Daerah yang kita tinggali masih menyimpan kenyataan di luar pengetahuan kita. Selama kenyataan tersebut belum memiliki kesempatan untuk mengoreksi cara kita berpikir dan bertindak, keakraban akan terus memberi rasa percaya diri yang lebih besar daripada pemahaman yang sebenarnya kita miliki. - Ko Ki

Saya berasal dari Bojonegoro, berlatar pendidikan hukum, dan bekerja di bidang keuangan serta asuransi. Di luar pekerjaan, saya mengembangkan Nusaiba Studio dan berbagai proyek digital.

Posting Komentar